Selasa, 22 Maret 2022

APA ARTI DARI SUATU IDENTITAS

 



Manusia dibentuk oleh suatu konstruksi sosial yaitu identitas yang melekat pada tiap-tiap individu tersebut. Lalu bagaimana identitas itu terbentuk ? dan kenapa identitas itu penting untuk dimiliki setiap individu? sebelumnya untuk memulai pembahasan ini kita perlu mengetahui identitas itu sendiri karena untuk melihat identitas tidak hanya sekedar tahu saja tapi juga harus memahami sebenar-benarnya identitas. Karena sejatinya identitas merupakan suatu hal yang common namun utama dalam kehidupan bersosial. Berdasarkan pendapat seorang ahli Stella Ting Toomey identitas adalah refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis dan proses sosialisasi. Suatu identitas muncul akibat refleksi dari diri sendiri dan persepsi orang lain terhadap diri kita. Identitas muncul akibat kontruksi sosial yang harus terpenuhi untuk kepentingan kelompok yang terus terpolarisasi dari generasi ke generasi sehingga membuat hal tersebut menjadi sebuah jati diri seseorang.

Jika melihat berdasarkan sejarahnya identitas merupakan sebuah teori sosial yang dikemukakan oleh henri tajfel dan john turner pada tahun 1979. Awalnya teori tersebut di gunakan untuk memahami dasar psikologi individu dalam kelompok. Dimana individu dalam suatu kelompok memiliki potensi untuk melakukan tindakan diskriminasi terhadap individu lain. Seiring perkembangan zaman dan kemajemukan sistem sosial teori mengenai identitas terus berkembang hingga menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sosial manusia. Tentunya dengan perkembangan tersebut muncul berbagai macam dari identitas mulai dari identitas seksual, identitas sifat/ psikologi, identitas agama, identitas nasional/ bangsa. Dari berbagai macam identitas tersebut kemudian muncul yang disebut dengan hegemoni kelompok yang hal tersebut membuat perselisihan antar individu antar kelompok atau kelompok dengan kelompok.

Identitas seakan sudah bertransformasi menjadi bagian dari diri manusia yang tidak terpisahkan. Setiap individu sudah dapat dipastikan memiliki suatu identitas dalam dirinya baik yang sudah dari lahir sampai dengan bentukan dari kontruksi sosial. Suatu identitas berguna sebagai pengelompokan manusia kedalam kotak-kotak yang sama dengan lainnya, sehingga lebih memudahkan untuk mengatur untuk kepentingan tertentu, seperti halnya identitas suatu bangsa sejatinya manusia adalah sama namun adanya identitas bangsa yang melekat berdasarkan dari mana ia lahir, warna kulit apa dirinya, dan berbicara dalam bahasa membuat manusia harus memiliki identitas dalam dirinya. Sejatinya jika melihat dari perkembangan peradapan manusia hal itu terjadi akibat migrasi manusia ke benua benua lain yang mengakibatkan mereka berevolusi menyesuaikan dengan tempat mereka tinggal dan kemudian membentuk berbagai macam budaya mulai dari cara untuk berkomunikasi yang memunculkan berbagai macam bahasa di seluruh dunia.

Selalu ada dua hal di dunia ini putih atau hitam, baik atau buruk. Begitu pula dengan suatu identitas ini selalu memiliki dua sisi yang berbeda. Memiliki dampak yang baik dan juga buruk, namun semua itu hanyalah persepsi diri manusia sendiri, semua tergantung bagaimana manusia mengartikan hal tersebut. Identitas juga salah satu konstruksi yang terbentuk dari berbagai persepsi manusia. Bagaimana manusia melihat perbedaan satu sama lain yang kemudian memunculkan perspektif pengelompokan antar manusia sesuai dengan kesamaannya. Entah kenapa kini identitas yang mulanya hanya sebagai ciri khas namun kini sudah menjadi alat propaganda dan perpecahan antar kelompok identitas yang fanatik. Di era modernitas manusia semakin terkotak-kotak menjadi lebih khusus dan spesifik sampai pada tingkat kepribadian tiap individunya. Yang awalnya diciptakan secara general, sama dan setara semakin terperosok kedalam perbedaan yang berpotensi pada pengelompokan antar individu. Konflik-konflik besar yang pernah terjadi dalam skala nasional hingga international sebagian besar berlatar belakang akibat identitas yang ekstrimis sehingga mmemunculkan gesekan konflik.

Perang kerajaan romawi-yunani-persia hingga islam, perang dunia pertama, perang dunia kedua, kemudian konflik-konflik lainnya. Yang semuanya hampir berawal dari perbedaan identitas, ideologi ataupun pemahaman. Dari itu semua mengakibatkan bencana yang amat luar biasa mulai dari bencana lingkungan, bencana ekonomi, hingga bencana kemanusiaan. Manusia yang katanya sama dan setara harus merenggut itu semua karena egoisme yang sangat sepele sekali. Identitas yang awalnya dibentuk untuk suatu hal yang baik agar lebih efisien, efektif dan terstruktur  justru kini sudah menjadi alat yang mematikan dan berpotensi menghancurkan peradapan. Oleh karena itu agar tidak terulang kembali sejarah yang kelam di masa lalu, pemahaman untuk menyikapi bentuk identitas harus benar terselesaikan sehingga tidak ada pesan tersirat yang hanya separo terpahami. Identitas harus digunakan menjadi alat pemersatu yang baik, bukan malah menjadi alat pemecah dan mencoba menunjukkan identitas siapa yang paling baik. menunjukkan identitas sebagai bentuk toleransi yang indah bahwa kita semua sama manusia namun memiliki ciri khas pembeda yang saling melengkapi dan membutuhkan satu sama lain.


Minggu, 13 Februari 2022

WAJAH KOTA SURABAYA, CERMINAN MASYARAKAT PEJUANG

 


            Surabaya kota besar, kota metropolitan. Sebuah kota yang menjadi ikon Jawa timur dengan julukan pahlawannya Indonesia. Dalam sejarah yang menjadi awal mula peristiwa iconik 10 November 1947 yang membawa semangat luar biasa rakyat Jawa timur dalam kobaran api pertempuran. Peristiwa itu menjadikan simbol bahwa perjuangan rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaan bukan hanya hadiah semata melainkan memang benar-benar perjuangan tumpah darah harta dari seluruh rakyat Indonesia. Apa yang terjadi di Surabaya memberikan sinyal penting dalam perjuangan yang terjadi di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa dengan bersatunya rakyat segala rintangan apa pun tidak akan terelakkan. Belajar dari pertempuran Surabaya bahwa rakyat dari rakyat mampu memojokkan sebuah negara adidaya sekelas sekutu yang menjadi pemenang dalam perang dunia ke dua.

            Dari peristiwa perang 10 November dapat diambil pelajaran bahwa untuk menuju perjuangan yang sejati memang harus memerlukan koordinasi dari semua pihak. Tidak hanya bergantung dari satu pihak lalu pihak lainnya hilang tanggung jawab. Dalam peristiwa 10 november bung tomo sebagai orator ulung yang mampu membakar semangat arek-arek surabaya untuk bertempur, untuk memperjuangkan hak dan kemerdekaannya. Tidak hanya bung tomo melainkan juga ada banyak pihak yang berperan dalam peristiwa tersebut juga golongan santri. Kobaran semangat yang telah membara kemudian mampu di akomodasi oleh berbagai residen sudirman dan para pejuang untuk menyerbu Surabaya yang tengah diduduki oleh sekutu NICA yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Mallaby.

            Memang surabaya begitu sangat kental akan kepahlawanan dan perjuangan, ibaratnya surabaya lahir dari benih-benih perlawanan setiap unsur dan golongan rakyat. Dari benih-benih itulah kemudian tumbuh besar menjadi surabaya yang sekarang. Surabaya yang telah menjadi kota metropolitan dan menjadi jantung dari provinsi jawa timur. Kini memberikan banyak ruang kepada masyarakat untuk mengadu nasib di kota yang katanya perjuangan ini. Masyarakat seperti ter distraksi dengan kata-kata tersebut, ketika hidup lingkungan yang penuh perjuangan maka ia akan ikut untuk bekerja keras. Mungkin seperti itulah bisa di istilahkan. Bahwa nama besar dari surabaya telah melegenda, semua itu tak bisa lepas dari perjuangan para pahlawan di masa kolonialisme dan pemertahanan kemerdekaan dahulu.

            Namun apakah perjuangan sekarang akan sama dengan perjuangan di masa lalu. Apakah manusia manusia kini masih bisa setegar dan sekuat para pahlawan dahulu. Apakah mereka mau memperjuangkan hak-haknya sampai mengorbankan darah dan juga harta. Realitasnya kini sudah tidak se heroik kisah masa lalu. Surabaya memang menjadi kota terbesar kedua setelah ibukota Jakarta. Namun kondisi sosial yang ada ternyata juga tidak jauh beda, masyarakat setempat masih belum belum merdeka, masih belum menikmati apa yang telah diperjuangakan oleh para pahlawan dahulu. Masih banyak masyarakat yang kesusahan meskipun itu hanya untuk makan siang. Dibalik pembangunan gedung-gedung yang tinggi ada masyarakat pinggiran yang tergusur dan terusir. Dibalik bangunan megah nan luas universitas-universitas masih banyak anak-anak yang tidak terdidik dan putus sekolah, masih banyak permasalahan sosial disekitar, masih banyak orang orang yang tidak melek huruf dan justru pengangguran juga semakin bertambah banyak.

            Dibalik kemegahan cerita kepahlawanan kota surabaya dibaliknya juga tersimpan pekik perjuangan kaum kaum marginal yang semakin sulit dan terkikis dengan kemajuan kota surabaya itu sendiri. Kota dan sistem yang semakin tidak memihak kepada mereka, dimana yang punya kuasa semakin langgeng, yang punya modal semakin lancar membangun kerajaan bisnisnya, kemudian para aparatur negara yang semakin nyaman berada di zona nyaman dan melayani ala kadarnya. Namun dibalik itu sebenarnya semua sama. Sama sama sedang berjuang untuk dirinya sendiri, sama sama berjuang atas apa yang menjadi tujuannya. Oleh karena makna dari kata berjuang sudah sepatutnya dikembalikan ke jalan kebenarannya bahwa berjuang adalah upaya untuk saling membantu, saling lindung melindungi dan saling mensejahterakan satu sama lain. Itulah makna berjuang dari surabaya yang sebenarnya.

 

Selamat berjuang bagi para pejuang !!!


Jumat, 06 Agustus 2021

Halau Paham Radikalisme, Keutuhan Pancasila Tetap Nomor Satu

 

    Radikalisme adalah suatu paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik dengan menggunakan cara paksaan dan kekerasan.

Radikalisme sering dikaitkan dengan tindak terorisme karena pelaku selalu menggunakan cara kekerasan maupun teror yang sangat merugikan banyak orang.

Radikalisme berkembang begitu pesat di Indonesia itu dikarenakan kurang kuatnya akan jiwa pancasilais yang melekat dalam diri dan juga lemahnya iman kepada Tuhan YME. Selain itu orang tertarik dengan paham radikalisme dikarenakan propaganda politik maupun iming-iming yang diberikan seperti dijanjikan langsung bisa masuk surge melalui jalan jihad maupun diberi uang yang banyak.  

radikalisme juga dijadikan cara masyarakat untuk meluapkan kekecewaannya pada demokrasi yang dijalankan pemerintah.

Ada beberapa kasus radikalisme yang mengarah ke terorisme yang pernah terjadi di Indonesia, Seperti yang terjadi kemarin 10 oktober 2019, sekitar pukul 11.50 wib. Bapak wiranto Menteri polhukam mendapat serangan penusukan yang diduga anggota JAD di pandeglang, banten.

Motifnya sendiri masih dipelajari oleh pihak kepolisian tapi diduga pelaku terpapar paham radikalisme.

Radikalisme tumbuh kembang di Indonesia dikarenakan kurangnya pemahaman akan Pancasila dan juga lemahnya pengetahuan soal keagamaan sehingga membuat pelaku mudah dicuci otaknya oleh paham radikalisme.

    Itulah kenapa betapa pentingnya edukasi mengenai Pancasila dilakukan sejak dini dan bertahap bahkan harus diajarkan sampai jenjang perguruan tinggi,saya sebagai penulis dan juga akademisi di Universitas Islam Malang (UNISMA) mengapresiasi pihak-pihak UNISMA dan juga pihak yang terkait karena telah memberikan edukasi mental cinta tanah air yang agamis, pancasilais dan juga berjiwa aswaja yang telah mampu berkontribusi di lingkungan sosial untuk selalu menjaga dan mengawal kemajuan bangsa di era modern ini, tak hanya dilingkup Pendidikan formal maupun non formal tapi ini juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari demi tegaknya NKRI dan utuhnya Pancasila untuk membentuk SDM unggul dan Indonesia maju.


Senin, 03 Agustus 2020

Palestina dan Israel Serial Tom Jerry di Dunia Nyata. Penuh Drama !!



            Pernah dengar dengan palestina ? mungkin kebanyakan masyarakat Indonesia tahu bahwa bangsa palestina adalah bangsa yang terjajah oleh negara Israel, bangsa yang paling tertindas pada abad 21 ini. Tapi pernahkah muncul dibenak pikiran kalian kenapa bangsa palestina kok tidak merdeka-merdeka. Yahh, mungkin apa yang dibenak kalian serupa dengan apa yang saya pikirkan, dan memicu saya untuk menulis sesuatu yang mungkin sedikit bermanfaat buat kalian, yahh meskipun tidak akan membuat perut kenyang tapi bisa sedikita mengenyangkan otak kalian. Disini akan saya bahas dari sejarah kenapa kok palestina selalu bermusuhan dengan Israel, bisa diibaratkan Bahasa antara palestina dan Israel adalah Bahasa peluru alias dengan peperangan (bukan) bisa dikatakan peperangan apabila terjadi pertempuran secara frontal dan total, bisa dibilang bentrokan-bentrokan yang sering terjadi di sekitar perbatasan jalur gaza.

Mengutip pernyataan baru-baru ini dari Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu menyatakan bahwa “akan mencaplok wilayah lembaha Jordan di tepi barat dan operasi akan dilaksanakan pada 1 juli 2020”, Sumber dari Sindonews.com. jika hal itu akan terjadi dan tidak ada negosiasi ataupun perjanjian damai dari kedua pihak atau pihak PBB yang menengahi maka akan menyebabkan 107.000 warga palestina di daerah tersebut terancam terusir dari tanah mereka tinggal. Kemudian selalu muncul dipikiran kenapa paletina tidak kunjung merdeka, mengapa negara ini tidak segera berdaulat dan bebas. Apakah ini salah palestina, salah Israel, atau salah seluruh dunia ? . pada ulasan tulisan ini saya akan menjabarkan dari akarnya yaitu pada saat Deklarasi Balfour sampai pada perpecahan faksi-faksi palestina.

Tulisan ini sedikit Panjang, bagi yang tidak suka baca silahkan skip dan lewatkan ilmu ini

            Awal kisah dimulai saat bangsa yahudi meminta kepada kerajaan inggris agar diberikan tanah air sendiri.

A. Deklarasi Balfour

            Yap, deklarasi balfour adalah sepucuk surat yang ditulis oleh Menteri luar negeri kerajaan inggris yaitu Arthur Balfour pada 2 november 1917 saat berkecamuknya Perang Dunia 1. Saat inggris dan perancis babak belur dan terjebak pada jalan buntu gara-gara ulah jerman di zona perang bagian barat, Menteri luar negeri inggris saat itu, Lord Arthur James Balfour menulis sepucuk surat kepada warga keturunan yahudi yang berpengaruh di kerajaan inggris yaitu Baron Lionel Rothschild. Surat tersebut yang berisi dukungan pemerintahan inggris terhadap berdirinya negara yahudi. Awalnya perdana Menteri inggris saat itu dijabat oleh David Lolyd George memberikan tanah Uganda di afrika untuk warga yahudi, tapi warga yahudi menolak tanah tersebut dan menginginkan tanah yang berada di palestina yang saat itu dikuasi oleh Kesultanan Turkey Ustmani. Akhirnya menlu dan perdana Menteri inggris menyetujui usulan tersebut (Al-Jaddid, 2014:4).

            Tujuan dari dukungan inggris terhadap berdirinya negara yahudi melalui deklarasi balfour adalah Gerakan politik akan kekhawatiran arah dunia pada masa perang dunia 1. Putusan tersebut mengandung motif yang berbeda. Pemerintah inggris berharap dengan adanya deklarasi dukungan tersebut akan menarik simpati warga yahudi di negara-negara netral seperti amerika serikat. Sebagaimana dicatat Bernard Avishai dalam “The Balfour Declaration” yang terbit di The New Yorker, negosiasi tingkat elit pertama antara inggris dan kelompok yahudi bisa dilacak pada tanggal 7 februari 1917 dalam sebuah konferensi yang juga dihadiri Balfour dan para petinggi kelompok yahudi salah satunya adalah Rothschild (yang kelak akan menjadi presiden pertama Israel). Dalam pembicaraan tersebut tidak sama sekali menyebutkan nasib yang terjadi pada warga palestina hingga deklarasi dipublikasikan. Di mata sejarawan ketiadaan tersebut menjadikan deklarasi balfour tidak adil.

            Semenjak saat itu banyak warga yahudi yang mulai berbondong-bondong bermigrasi ke tanah arab. Setelah berakhirnya perang dunia 1 dan memunculkan pakta Versailles 1919, inggris diberikan mandate untuk memegang mandat memerintah sementara di palestina yang sebelumnya dipegang oleh kesultanan ottoman. Pemberian mandate tersebut diharapkan inggris dapat berperilaku adil terhadap yahudi dan suku arab yang ada di palestina, tapi pada kenyataannya tidak. Setelah tahun 1939 perang dunia 2 dimulai dan Nazi Jerman dibawah Hitler melakukan sejumlah upaya Holocaust membuat dukungan internasional terhadap yahudi pun meningkat pesat. Dukungan tersebut akhirnya memunculkan deklarasi resmi berdirinya negara yahudi Israel pada 1948.

 

 

 

B. Israel Menang Perang dengan Liga Arab

1. Perang Arab-Israel

            setelah negara yahudi Israel resmi berdiri pada 14 mei 1948, 24 jam setelahnya Liga arab resmi menyatakan perang pada negara yang baru lahir ini. Perang yang sering dikenal dengan Perang Arab-Israel yang berlangsung sekitar 1 tahun ini antara 15 mei 1948- 20 juli 1949 adalah peperangan karena ketidak setujuan negara-negara arab atas mandat yang telah diberikan oleh PBB karena Israel mendapat tanah sekitar 55% dari pembagian dengan tanah arab. Hal ini memicu perang yang kemudian bagi orang palestina disebut bencana sampai saat ini. Liga arab yang Bersatu dalam perang terdiri dari mesir, irak, suriah, yordania, Lebanon, arab Saudi, dan yaman. Meskipun Israel berperang sendirian namun Israel mampu memenangkan perang dan mampu memperluas wilayahnya dengan merebut sekitar 30% tambahan tanah palestina. Saya tidak akan membahas kenapa Israel bisa menang perang, mungkin akan disambung di tulisan selanjutnya.

2. Perang Sepanjang Terusan Suez (Krisis Suez)

            Perang kedua terjadi pada 29 oktober 1956, perang ini dikenal juga dengan Krisis Suez. Awal mulanya ketika mesir mulai menasinalisasikan terusan Suez yang kemudian ditentang oleh inggris dan prancis akhirnya membantu Israel dalam melakukan invasi diwilayah gaza dan mampu menduduki wilayah sinai yang dimiliki oleh mesir. Terusan suez adalah wilayah yang sangat strategis karena mampu memangkas perjalanan daru eropa ke wilayah timur jauh dan Australia tanpa mengelilingi benua afrika. Pada masa itu wilayah ini sangat penting bagi inggris dan perancis karena sebagai penguhubung ke wilayah jajahannya. Secara militer Israel,inggris dan perancis menang tapi secara politik mereka kalah, karena tekanan dari dunia internasioanal untuk gencatan senjata dan meminta Israel, inggris, dan perancis untuk mundur dari wilayah mesir. Alhasil, merekapun mundur dan kemudian pemerintah mesir membuka kembali terusan suez untuk komersial

3. Six Days War (Perang 6 Hari)

            Perang ini terjadi pada 5-10 juni 1967, lineup dari masing-masing kubu adalah israel vs mesir, yordania, dan suriah. Awal mula perang ini adalah penutupan selat tiran oleh pemerintah mesir yang presidennya saat itu diajabat oleh Gamal Abdul Nasir, pemerintah mesir juga mulai mengerahkan pasukannya ke tapal batas Israel disekitar semenanjung sinai. Israel menanggapi hal ini dengan maklumat jika selat tiran tidak dibuka maka sama saja dengan menantang perang namun pemerintah mesir tetap menutup selat tiran dan perang pun tidak terelakkan. Pada tanggal 30 mei yordania dan mesir resmi bekerja sama dan yordania turut mengundang suriah untuk bergabung. Menanggapi hal ini Israel melancarkan operasi focus yaitu operasi udara besar-besaran yang dilakukan secara mendadak untuk menyerang pangkalan udara mesir. Hasilnya adalah Israel mampu menghancurkan sebagian besar pesawat dari mesir sehingga membuat kekuatan udara mesir mandul. Dengan keunggulan kekuatan udara Israel, Israel bagai diatas angin melawan persatuan negara arab tersebut. nyatanya persatuan negara arab memiliki ego politiknya masing-masing yang membuat koordinasi dan satuan komando dilapangan tidak berjalan dengan baik. Hal ini yang semakin memudahkan Israel menang perang dengan waktu yang singkat dan berhasil merebut wilayah golan, sinai, dan gaza.

4. Perang Yom Kippur

            Perang ini terjadi pada 6 oktober -26 oktober 1973 antara Israel vs suriah, Libya, dan mesir. Pada tanggal 6 oktober bertepatan dengan hari raya terbesar umat yahudi yang disebut dengan yom kippur, dan bertepatan pula dengan bulan Ramadhan bagi umat muslim sehingga dinamakan perang Ramadhan 1973. Skip, (tidak membahas jalannya perang) Setelah dua minggu perang berkecamuk dewan PBB mengadakan rapat dan menghasilkan resolusi 339 serta gencatan senajata dikedua belah pihak dan mencegah kekalahan total mesir dan sekutunya.  Dalam perang ini aliansi negara arab tidak memiliki tujuan sama sekali untuk membahas kemerdekaan palestina, mereka hanya ingin merebut wilayah sinai dan golan.

            Pada tahun 1978 di camp David amerika serikat disepakati perjanjian camp David yang isinya Israel akan menyerahkan sinai kepada mesir dan golan kepada suriah. Isi yang kedua membahas soal hak-hak bangsa palestina tetapi malah ditolak oleh Organisasi Pembebas Palestina (PLO). Posisi palestina setelah perang yom kippur ini makin tidak jelas terlebih setelah yordania negeri yang ditempati sebagian besar bangsa palestina lebih memilih bersikap netral akibat kekalahannya setelah perang enam hari yang membuat yordania harus kehilangan wilayah di tepi barat dan jerussalem timur. PLO yang berkedudukan di yordania semakin sombong dan menuntut pemerintahan palestina untuk bertindak namun raja yordania menolak. PLO kemudian ingin melancarkan kudeta ke raja yordan namun dapat dicegah raja dengan mengusir PLO keluar yordan.

C. Faksi-Faksi Palestina Tidak Bersatu

            Palestina sendiri mempunyai beberapa faksi-faksi yang kesemuanya memiliki tujuan nya sendiri-sendiri dan kadang justru mereka saling berperang. sungguh sangat disayangkan bahwa bukannya Bersatu menyatukan kekuatan tapi justru malah saling serang dan membuang-buang tenaga dan pikiran. Sebenarnya ada banyak faksi dipalestina dari yang bergerak secara terang-terangan hingga yang bergerak didalam tanah. Namun, ada dua faksi besar yang berkuasa yaitu : faksi Fatah yang berideologi nasionalis sekuler dan Hammas yang berideologi islam. Keduanya sama-sama memeperjuangkan kebebesan palestina tapi dengan jalan dan cara yang berbeda. Fatah lebih memilih berdiplomasi dengan Israel sedangkan Hammas lebih memilih jalan perang untuk kebebasan.

            Dalam perkembangannya kedua faksi tersebut terus berseteru dan bahkan saling menyerang satu sama lain, bukannya menyatukan kekuatan bersama. Rasa nasionalisme juga kurang tercermin pada bangsa palestina sehingga pergolakan atau perlawanan hanyalah seperti batu kerikil saja. Untuk mencapai kemerdekaan memang tidak mudah ada syarat internasional yang harus terpenuhi yakni adanya wilayah, adanya rakyat, pemerintahan yang sah, dan pengakuan dari negara lain. Untuk mencapai sebuah kemerdekaan haruslah mengesampingkan ego politik terlebih dahulu demi tercapainya tujuan bersama apabila kedua faksi besar ini mampu mengesampingkan egonya dan mampu duduk bersama di meja kerja sama, dengan kemampuan diplomasi fatah dan kekuatan dari hammas kemerdekaan mungkin saja bisa diraih bangsa palestina.

D. Simpulan

            Setelah koalisi arab beberapa kali kalah perang dengan Israel mereka cenderung lebih berdamai dan tidak menganggap Israel sebagai musuh lagi. Dunia internasional juga seperti sudah kehabisan akal untuk bertindak dalam konflik ini. Sementara perjuangan bangsa palestina masih terus berlanjut ditengah polemik egosentris para elit palestina dan juga gempuran Israel.

            Kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Sebuah kemerdekaan itu haruslah diperjuangkan oleh bangsanya sendiri apabila bangsa tersebut tidak Bersatu maka kemerdekaan hanyalah mimpi indah yang terjadi di alam baka sana. Karena sejatinya persatuan dan rasa nasionalisme lah yang menjadi senjata terkuat dalam meraih kemerdekaan. Perang arab-Israel menjadi bukti bahwa persatuan rakyat Israel dalam melawan koalisi negara arab yang terpecah-pecah mampu mengalahkan kekuatan besar koalisi arab. kuncinya adalah PERSATUAN.

 

 

           

.